Legenda Pulau Cangkir Tangerang

Legenda Pulau Cangkir Tangerang

Pulau Cangkir dipopulerkan ke masyarakat luar oleh Ki Waslim bin Suryadi (alm.). Beliau berasal dari Baongas Jamban Pelawangan Indramayu Jawa Barat. Tujuannya Ki Waslim datang ke Pulau Cangkir untuk berziarah ke makam keramat Pangeran Jaga Lautan bin Sultan Maulana Hasanudin Banten. Pangeran Jaga Lautan adalah putra pertama Sultan Hasanuddin dengan selir atau cucu dari Syeh Sariphidayatulloh Sunan Gunung Jati Cirebon. 

Pulau Cangkir ini berlokasi di Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang. Sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil pribadi dari Kota Tangerang melalui Balaraja.

Setelah datang ke Pulau Cangkir, beliau kebingungan mencari jalan masuk ke Pulau Cangkir karena pada waktu itu untuk memasukinya harus menyeberang laut, kurang lebih 100 meter dari daratan. Pada waktu itu kondisi Pulau Cangkir masih berupa hutan belantara.

Dengan tujuan mendekatkan diri dengan Allah SWT, selanjutnya Waslim berkhalwat (menyepi seorang diri) di makam Pangeran Jaga Lautan selama 42 hari 42 jam. Dalam melakukan khalwat itu tidak sedikit godaan dan ujian dahsyat. Setelah beliau lulus dari berbagai macam godaan tersebut, beliau kedatangan seorang Syeh berpakaian haji dan menggenakan sorban berwarna hijau sambil berpesan untuk "menjaga Pulau Cangkir".

Kejadian tersebut terjadi pada malam Jumat Kliwon tahun 1974. Semenjak itu Ki Waslim bertambah yakin akan kebenaran bahwa Pangerang Jaga Lautan adalah seorang Wali yang membawa keramat. Akhirnya, keberadaan Pulau Cangkir menyebar luas kepada masyarakat.

Selain wisata ziarah, lokasi Pulau Cangkir juga dapat dinikmati sebagai wisata pantai. Keberadaan pedagang dan kuliner khas laut tersaji banyak disini. Bila kondisi air laut sedang tenang pun biasanya digunakan buat bermain air laut di pantainya. Hutan mangrove pun menjadi salah satu pesona di sekitar Pulau Cangkir dan muara Sungai Pasilian dengan bekas bangunan runtuh akibat abrasi laut.

Kini Pulau Cangkir sudah tidak terpisah lagi dengan daratan, warga setempat sudah melakukan pengurukan untuk membangun jalan penghubung antara daratan Pulau Jawa dengan Pulau Cangkir. Pun hikayat dulunya banyak monyet sudah tidak terlihat seiring ketiadaan pohon randu yang besar-besar di tempat itu.

 

Sumber: Informasi di Pulau Cangkir