Fakta di Balik Gubernur Banten Imbau Wisatawan Tak Datang ke Negeri di Atas Awan 3 Bulan Mendatang

Fakta di Balik Gubernur Banten Imbau Wisatawan Tak Datang ke Negeri di Atas Awan 3 Bulan Mendatang

Setelah viral di media sosial negeri di atas awan Gunung Luhur yang berada di Desa Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, kini ramai dikunjungi wisatawan. Wisatawan yang datang tentunya penanasaran dan ingin melihat langsung panorama hamparan awan dari atas gunung. Akibatnya, kemacetan pun tak terhindarkan hingga muncul keluhan debu dari para wisatawan.

Kemacetan terjadi lantaran jumlah pengunjung yang membeludak, hingga 30.000 orang pada akhir pekan kemarin. Sementara itu, debu muncul lantaran jalan masih tanah dan dalam pengerjaan sepanjang dua kilometer. Untuk itu, Gubernur Banten Wahidin Halim menghimbau kepada wisatawan untuk tidak datang ke negeri di atas awan hingga tiga bulan mendatang. Berikut ini fakta di balik Gubernur Banten imbau wisatawan tidak datang ke negeri di atas awan hingga tiga bulan mendatang:

1. Wisatawan untuk tidak datang hingga 3 bulan

Wahidin mengimbau wisatawan untuk menunda rencana kunjungan ke negeri di atas awan hingga tiga bulan ke depan hingga pengerjaan jalan selesai dan fasilitas lengkap. "Emang jalan sedang diperbaiki, lagi ngebul, saya imbau wisatawan yang berniat datang untuk mempertimbangkan tiga sampai empat bulan mendatang, sampai fasilitas lengkap, dan pembangunan jalan selesai," kata Wahidin di kawasan pusat pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Selasa (24/9/2019). Baca juga: Wisatawan Diimbau Tidak Datang ke Negeri di Atas Awan hingga 3 Bulan Mendatang 2. Bangun sejumlah fasilitas

2. Bangun sejumlah fasilitas

Wahidin menjelaskan, dalam tiga bulan ini, pihaknya bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat akan menata kawasan obyek wisata Gunung Luhur. Sejumlah fasilitas akan dibangun, seperti tempat ibadah, penambahan toilet, tempat parkir, hingga penyelesaian sepanjang dua kilometer hingga ke spot utama untuk melihat hamparan awan. "Kemarin itu terlampau membeludak. Jalan yang lagi kami bangun juga terhambat pengerjaannya karena banyak pengunjung. Makanya, dalam tiga bulan ini akan kami selesaikan. Jika sudah selesai, wisatawan akan nyaman ke sana," jelas mantan Wali Kota Tangerang tersebut.

3. Sedang ada perbaikan jalan

Terkait keluhan pengunjung yang mengatakan banyak debu di negeri di atas awan, Wahidin menjelaskan, kondisi berdebu di Gunung Luhur hanya berada di jalan menuju ke atas saja lantaran sedang ada pengerjaan jalan, sementara di puncaknya, justru memiliki pemandangan indah. "Saya lagi bangun jalannya, banyak yang bilang ngebul-ngebul, emang ngebul, tapi di atasnya ada negeri di atas awan yang sangat indah," katanya. Pengerjaan jalan menuju ke Gunung Luhur, kata Wahidin, sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu yang, dimulai dari Citorek. Saat ini perkembangannya tinggal dua kilometer lagi dengan target penyelesaian tiga bulan mendatang. "Dari awal saya promosi juga kan jalan sedang diperbaiki, menuju potensi alam negeri di atas awan di situ, tiga bulan lagi lah, emang ngebul sekarang," katanya.

4. Tidak ditutup

Wahidin mengatakan, tidak ada rencana untuk menutup obyek wisata yang terletak di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) itu. Dia hanya minta jumlah pengunjung dikurangi, karena saat ini sedang sedang ada pengerjaan jalan. "Kami minta dikurangi agar masyarakat berpikir ulang untuk datang hingga tiga, empat bulanlah. Saya tidak katakan ditutup karena itu fenomena alam, silakan saja datang, saya cuma mengimbau jangan sekarang," katanya. Baca juga: Pengunjung Wisata Negeri di Atas Awan Membeludak, Macet hingga 7 Km 5. Tidak datang tepat waktu

5. Tidak datang tepat waktu

Sementara itu, pengelola Gunung Luhur Sukmadi mengatakan, adanya keluhan debu dari pengunjung, menurutnya,  pengunjung yang mendapati debu di Gunung Luhur tidak datang tepat pada waktunya. "Karena saking banyaknya pengunjung, sebagian enggak dapat informasi yang benar, kami dari pihak pengelola kasih info jika awan bisa dilihat mulai pukul 05.30 hingga 08.00 WIB," kata Sukmadi kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (23/9/2019). Sukmadi menduga, wisatawan yang mengeluh hanya melihat debu, karena datang pada siang hari. Saat itu, kata dia, memang banyak debu lantaran tengah ada pekerjaan jalan. "Kalau dilihat di video sepertinya siang hari ya, karena sudah tidak ada awan dan wisatawan juga sedikit, kalau pagi hari di jalan tersebut banyak kabut, tidak panas seperti itu," ujarnya.