Kerja Ikhlas demi Masyarakat, Tak Perlu Pencitraan

Kerja Ikhlas demi Masyarakat, Tak Perlu Pencitraan

Saya paling tidak bisa dan biasa melakukan pencitraan. Saya selalu tampil apa adanya. Tidak bisa dibuat-buat. Beginilah saya. Saya bisanya cuma kerja dan kerja untuk warga yang memilih dan mengamanahkan saya jadi memimpin daerahnya.

Saya kerja ikhlas tanpa pencitraan! Lillahi ta’ala. Bukti kerja keras saya dan jajaran Pemerintah Provinsi Banten, sejak saya diberi amanah memimpin Banten, sejumlah prestasi berhasil diraih.  Contohnya,  predikat WTP (wajar tanpa pengecualian) dari BPK dan pengelolaan keuangan terbaik. Ada juga pengakuan kepatutan dari Ombudsman RI. Selain itu, mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai gubernur inovatif.

Berbagai prestasi itu saya raih kurang dari 2 tahun saya memimpin Banten. Saya itu tidak senang cuma dapat laporan. Istilahnya ABS. Asal bapak senang. Saya selalu cek langsung ke lapangan. Coba ditanya sama pejabat-pejabat Kota Tangerang. Bagaimana mereka saya ajak blusukan masuk kampung keluar kampung waktu saya jadi Wali Kota Tangerang dua periode sekitar 2003-2013.

Dari masuk dan keluar kampung itu kita bisa berinteraksi dengan warga dan tahu apa mau mereka. Mereka mengeluh jalan rusak, jembatan rusak, sekolah anaknya rusak dan lain sebagainya. Lalu kita wujudkan kemauan warga itu. Warga pasti senang. Memang tugas kita mewujudkan keinginan masyarakat.

Saya kalau mau sidak (inspeksi mendadak) jalan rusak setelah dapat laporan warga, saya mah jalan ajah. Saya sering ngajak kepala dinas datangi lokasi yang dilaporkan warga.

Saya cuma mau nunjukkan kepada kepala dinas, ini loh ada jalan rusak. Ada yang harus diperbaiki. Itu kan tugas kamu memperbaiki jalan karena sudah digaji sama rakyat. Lucunya saya sering ditegur sama ajudan dan sopir pribadi. Saya janji jam 6 pagi mau sidak. Eh.. sopirnya belum datang. Ajudannya belum siap. Saya jalan ajah. Saya bawa mobil sendiri. Setelah itu diprotes ama ajudan dan sopir. Pak kok jalan gak bilang-bilang.

Ini aneh gak? Siapa yang protes dan diprotes. Tapi saya gak masalah  saya gak masalah. Itu hubungan manusiawi antara atasan dan bawahan. Saya sabar ajah. Semua kalau yang terjadi sudah kehendak Allah SWT, saya ikhlas. Gak perlu saya pencitraan. Saya berasal dari keluarga biasa, keluarga kecil Betawi yang besar di Tangerang. Seperti keluarga lain pada umumnya. Keluarga saya biasa-biasa saja. Saya hanya anak seorang guru yang sederhana.

Saya dulu pernah disuruh pulang dari sekolah lantaran belum bayaran. Ayah saya tetap memberikan semangat agar saya tetap bersekolah. Saya tidak malu, dan tetap masuk sekolah. Waktu sekolah tidak ada bangku, ayah saya suruh saya bawa meja dari rumah. Dan waktu itu buku tulis saya cuma satu, kalau ada banjir saya amankan bukunya pakai seragam, terus gak pakai sepatu. Itu kenangan pahit saya.

Saya tak ingin kenangan pahit itu terjadi sama warga Banten. Saya ingin mereka sekolah nyaman dan tidak perlu bayar karena sekolah di Banten sudah gratis. Ada bantuan BOS dari pemerintah pusat dan Bosda dari APBD Banten. Nilainya cukup untuk menggratiskan sekolah.

Waktu jadi Wali Kota Tangerang dua periode dulu, saya bangun 420 sekolah dari SD sampai SMA/SMK dengan standar bagus dan bangku-bangku pilihan. Tidak hanya itu, guru-guru sampai penjaga sekolah semua dapat insentif.

Makanya saat saya jadi Gubernur Banten, saya langsung keluarkan kebijakan untuk gratiskan sekolah, bangun sekolah bahkan hingga beasiswa. Begitu juga untuk program kesehatan. Saya akan bayarin semua warga BPJS-nya. Kalo sakit bisa berobat gratis. Jalan juga saya perbaiki. Biar warga mudah dapat berpindah tempat karena jalanannya bagus gak berlubang.

Itu memang tugas pemimpin. Memenuhi kebutuhan warganya. Saya ini apa orang yang apa adanya, dan memang dari dulu dididik sederhana. Saya dulu sering angon kebo (menggembala kerbau, Red).  Wahidin.

Di mata saya kalau salah ya salah, kalau benar ya benar. Dan saya harus konsisten menjalankan amanah. Itu yang selalu saya tanamkan dengan jajaran Pemprov Banten. Kerja yang bener dan bagus. Saya dan warga akan cek dan rasakan manfaatnya.

Kadang kita kerja bener ajah sering diprotes dan dinyinyirin. Apalagi kerja salah. Tapi itulah tugas PNS. Tugas abdi negara harus siap menerima keluhan warga. Kalau kerja ikhlas Insya Allah ada hasilnya.

Di situlah arti pentingnya ikhlas. Beramal murni karena Allah. Bukan mengejar pujian manusia. Dan melalui puasa inilah kita diajarkan tentang arti keikhlasan. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

’’Orang yang berpuasa dengan ikhlas, ia akan dihapuskan dosa-dosanya yang lalu.’’